Museum Balaputra Dewa di Palembang menjadi jendela untuk memahami sejarah panjang Sumatra Selatan.
Museum ini menampilkan koleksi yang mencerminkan warisan budaya dari berbagai periode, mulai dari era megalitikum hingga masa kejayaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang.
Dengan arsitektur khas rumah tradisional Limas, museum ini menawarkan pengalaman eksplorasi yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Lokasinya di Jalan Srijaya I No. 28 menjadikannya mudah diakses oleh pengunjung yang ingin menelusuri kekayaan budaya Sumatra Selatan.
Beragam koleksi, mulai dari peninggalan arkeologi, tekstil tradisional, hingga replika rumah adat, memberikan gambaran komprehensif tentang kehidupan masyarakat di masa lampau.
Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah rumah adat limasan yang masih berdiri kokoh di area museum.
Struktur kayu yang khas, ukiran tradisional, serta tata letak bangunan ini menjadi representasi arsitektur khas Sumatra Selatan.
Selain itu, museum ini juga menyimpan koleksi yang pernah diabadikan dalam mata uang Indonesia, menambah daya tarik bagi para pengunjung yang ingin melihat langsung warisan budaya yang pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Foto pada banner: @kaosnyenyes, @palembanginstaphotoandvideo, @pariwisata.palembang/Instagram
Alamat Museum Balaputra Dewa: Sukaramai, Jl. Srijaya No.I, RW.5, Srijaya, Kec. Alang-Alang Lebar, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30139.
Museum Balaputra Dewa mulai dibangun pada tahun 1978 dan resmi dibuka untuk umum pada 5 November 1984.
Berdiri di atas lahan seluas 23.565 meter persegi, museum ini menjadi pusat pelestarian sejarah dan budaya Sumatra Selatan.
Dengan lebih dari 3.800 koleksi yang diklasifikasikan ke dalam 10 kategori, museum ini menyajikan berbagai artefak dari masa prasejarah hingga era modern.
Nama museum ini diambil dari Balaputra Dewa, raja Sriwijaya yang berkuasa pada abad ke-9 Masehi.
Sebagai penguasa yang memperkuat kejayaan Sriwijaya di Asia Tenggara, namanya diabadikan sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah panjang Sumatra Selatan.
Baca juga: Menelusuri Kejayaan Kesultanan Palembang di Benteng Kuto Besak
Museum ini berfungsi sebagai museum negeri provinsi, dengan peran utama dalam mendokumentasikan serta menampilkan warisan budaya daerah.
Dalam perjalanannya, Museum Balaputra Dewa mengalami pengembangan fisik pada tahun anggaran 1997/1998. Seiring waktu, fungsinya semakin berkembang.
Awalnya, museum ini hanya membawahi satu institusi, tetapi kini berada di bawah pengelolaan yang mencakup dua museum, yaitu Museum Negeri Sumatera Selatan atau Museum Balaputra Dewa dan Museum Tekstil.
Dengan perkembangan ini, museum terus memperluas cakupan koleksi dan fasilitasnya untuk meningkatkan edukasi serta apresiasi terhadap warisan sejarah.
Museum Balaputra Dewa di Palembang menampung berbagai koleksi bersejarah yang menggambarkan perjalanan panjang peradaban Sumatra Selatan.
Dari peninggalan prasejarah hingga era kolonial Belanda, museum ini menjadi pusat dokumentasi sejarah dan budaya.
Koleksi museum terbagi dalam tiga bagian utama.
Kebudayaan Megalitikum di Sumatra Selatan berpusat di dataran tinggi Pagar Alam, yang merupakan bagian dari Pegunungan Bukit Barisan.
Wilayah ini menyimpan banyak jejak kehidupan manusia prasejarah, termasuk 22 situs budaya megalitik yang telah ditemukan. Beberapa artefak yang dipamerkan dalam bagian ini meliputi:
Bagian ini berisi koleksi peninggalan Kerajaan Sriwijaya, kerajaan maritim besar yang berpusat di Palembang. Koleksi di bagian ini meliputi:
Baca juga: Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, Situs Bersejarah di Palembang
Kesultanan Palembang, yang berkembang pada abad ke-18, juga memiliki banyak peninggalan yang kini tersimpan di museum. Beberapa koleksi utama meliputi:
Jam Operasional
Harga Tiket Masuk