Benteng Fort Willem I atau Benteng Pendem Ambarawa adalah bangunan kolonial yang terletak di Ambarawa, Kabupaten Semarang.Â
Asal namanya diambil dari nama Willem Frederik Prins Van Oranje-Nassau (1815-1840), sebagai penghormatan kepada Raja Belanda kala itu.
Sementara julukan Benteng Pendem Ambarawa diberikan oleh masyarakat setempat karena konstruksinya mirip seperti benteng yang terpendam di tengah rawa.
Dibangun pada sekitar tahun 1834 dan selesai pada 1845, benteng ini berbentuk bujur sangkar dan dikelilingi oleh persawahan.Â
Jika dilihat, kompleks benteng satu ini justru memiliki banyak jendela dan tidak dilengkapi dengan bastion atau tempat meriam.Â
Saat ini, beberapa bagian bangunannya masih dalam kondisi seperti aslinya.Â
Sementara pada beberapa bagian telah mengalami perubahan, entah itu disesuaikan dengan fungsi terkininya maupun pengaruh alam.
Tentunya, ada kisah sekaligus misteri yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang berkunjung ke benteng ini.
Â
Benteng ini dibangun saat bergolaknya Revolusi Belgia di Eropa pada tahun 1830-an.Â
Khawatir dampaknya akan meluas sampai Jawa, Gubernur Jenderal Van den Bosch kemudian memerintahkan pendirian benteng-benteng di beberapa titik strategis.
Salah satu benteng yang dibangun adalah Benteng Willem I di Ambarawa.
Pembangunan benteng melibatkan insinyur, penjaga, 3.000 kuli pribumi, serta beberapa tahanan yang dihukum kerja paksa.
Lalu, apa kegunaan benteng ini pada saat itu? Hampir semua orang tahu kalau sebuah benteng dibangun dengan tujuan bertahan dari serangan musuh.Â
Akan tetapi, Benteng Pendem Ambarawa justru tidak digunakan untuk tujuan itu.
Benteng yang mampu menampung sebanyak 12.000 tentara itu justru digunakan untuk fungsi lainnya.
Hal itu dibuktikan dengan arsitektur bangunannya yang banyak jendela, mengindikasikan bahwa fungsi utamanya bukan untuk pertahanan.
Â
Alih-alih bertahan dari musuh, Benteng Fort Willem I justru dijadikan sebagai barak militer, penjara, dan gudang logistik perang.
Selain itu, Benteng Pendem Ambarawa juga tidak dilengkapi bangunan yang berfungsi sebagai tameng dan tempat meriam.Â
Fungsinya berubah lagi ketika masa penjajahan Jepang.
Pada masa itu, benteng ini digunakan sebagai kamp untuk orang-orang Belanda dan penduduk yang dicurigai membangkang kepada pemerintah Jepang.Â
Sepanjang masa pendudukan Jepang di Ambarawa, banyak perlakuan mengerikan yang diterima para tawanan hingga meninggal di benteng ini.Â
Karena itu, banyak cerita horor menyelimuti Benteng Fort Willem I yang menyebar di masyarakat hingga sekarang.Â
Salah satu tokoh yang pernah ditahan di benteng ini adalah pejuang sekaligus ulama Indonesia, Kiai Mahfud Salam.
Ia mendiami salah satu blok di Benteng Pendem Ambarawa, hingga akhirnya meninggal dunia dan dimakamkan di luar kompleks benteng.Â
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Benteng Fort Willem I digunakan sebagai pangkalan militer oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR).Â
Baru pada tahun 1950 hingga 1985, sebagian benteng diubah menjadi penjara untuk dewasa dan remaja.Â
Kemudian sejak 2003 hingga saat ini, Benteng Fort Willem I dimanfaatkan sebagai Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Ambarawa.
Benteng ini juga dijadikan sebagai rumah dinas sipir dan tentara.
Ada sekitar 77 orang yang menempati lantai dua benteng.
Fungsi lainnya adalah destinasi wisata sejarah yang menarik para wisatawan dari dalam maupun luar kota.Â
Â
Menjadi salah satu destinasi populer di Semarang, Benteng Fort Willem I dikunjungi oleh banyak wisatawan setiap harinya.Â
Jadi tak heran kalau akses menuju ke obyek wisata ini sudah baik dan bisa dikunjungi menggunakan kendaraan.
Alamat Benteng Fort Willem I sendiri berada di Bugisari, Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah.Â
Untuk mengunjungi benteng tersebut, kamu harus menempuh jarak kurang lebih 44 km dari pusat Kota Semarang.
Jika menggunakan mobil, maka dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk sampai ke lokasi.
Menawarkan daya tarik sejarah dan spot foto yang menarik, Benteng Pendem bisa dikunjungi tanpa harus mengeluarkan biaya.Â
Tiket masuknya gratis sehingga kamu cukup membayar retribusi parkir kendaraan saja.
Destinasi wisata sejarah di Semarang ini buka setiap hari mulai dari jam 09.00–17.00 WIB.Â
Bagaimana, tertarik untuk mengunjunginya?